Tuesday, January 31, 2012

Haruskah semuanya diukur dengan materi?


Tulisan ini berangkat dari elaborasi beberapa kejadian, tontonan, bacaan, dan tentu materi kuliah yang setiap hari seperti tidak sangaja mendoktrin cara berpikir. Haruskah semuanya diukur berdasarkan materi yang dimiliki?

Dimulai dari kemiskinan. Beberapa hari kata ini selalu berkutat di kepala. sebenarnya apakah definisi kemiskinan? Rasanya tidak ada seorang pun atau suatu organisasi pun yang berhak mendefinisikan kemiskinan. Orang ekonomi boleh mendefinisikan kemiskinan dengan indikator penghasilan yang kurang dari sekian rupiah, atau dilihat dari IPM-nya, tapi adilkah itu? haruskah semuanya diukur berdasarkan materi? ketika penghasilan seseorang kurang dari standar2 itu tapi ia tidak pernah merasa dirinya miskin, lantas adilkan ia disebut sebagai ‘orang miskin’? kadang kita  terlalu egois dan ‘sok tahu’ menghakimi hidup seseorang. Jangan2 realitas yang ada selama ini hanya subjektivitas kolektif yang disepakati bersama.
“realitas yang kita pahami adalah realitas subjektif, suatu peta dari wilayah realitas objektif. Saya bukanlah saya apa adanya, melainkan saya adalah apa yang saya percayai. Dunia tidak lain adalah subjektifitas yang disepakati; dunia adalah persepsi kita yang juga dialami orang lain. Seandainya semua manusia diciptakan buta, tentu semua sepakat bahwa dunia adalah gelap gulita. Tidak ada realitas sebelum realitas itu dipersepsi. Kata John Wheeler, ‘alam semesta ini adalah alam semesta partisipatif’. Oleh karena itu, kita perlu segera mengenali lebih baik tentang subjektivitas agar kita tidak terjebak dalam perangkap subjektivitas. Dengan memahami hakikat subjektivitas, kita dapat lebih tepat dan bijak dalam menempatkan kata objektivitas.” (Thoha Faz, 2007)

Masyarakat adat khususnya, seperti masyarakat Badui di Banten atau masyarakat Kampung Naga di Tasik, jika dilihat dari kacamata ‘orang kota’ (entahlah, saya lebih suka menyebut orang2 yang KATANYA modern dengan sebutan ‘orang kota’) pasti mereka tergolong miskin. Tapi adilkah dengan penghakiman seperti itu ketika mereka sendiri tidak pernah merasa diri mereka miskin? Seperti masyarakat Kampung Naga yang menolak listrik masuk ke desanya dengan alasan “kalo listrik masuk, nanti bakal ada kecemburuan sosial, yang kaya bisa aja beli tv, dvd, dan segala macem alat elektronik, padahal belum tentu semuanya bisa”. How wise they are..  pemikiran inikah yang disebut pemikiran miskin, kolot, tradisional, tidak rasional? Menurut saya inilah pemikiran yang lebih modern bahkan dari pemikiran modern yang ada. Kenapa? Karena menurut saya tidak segala hal bisa diukur dengan materi. Idealis kah? Memang.

Coba lihat, betapa kapitalisnya kita sekarang? Ya, kita,, karena saya sendiri sebenarnya masih blur dengan segala elaborasi ini. Kearifan lokal yang sering didengungkan ketika kuliah, toh sepertinya tidak dapat terus berdiri tegak ketika arus modernisasi, industrialisasi, sistem kapitalis serta segala bentuk sistem yang diadaptasi dari dunia barat datang menggempurnya dari segala arah. Tetap masyarakat yang harus berkorban atau mungkin lebih tepatnya dikorbankan dari segala sistem yang dibuat oleh elite.

Mencoba memahami pemikiran pemerintah, ya..entah pemikiran sebelah mana dan pemerintah bagian  mana, tapi mungkin mereka menerapkan kebijkan karena dikejar dateline dari pemerintah pusat. Kenapa? Karena hal ini baru saja terjadi dengan saya. Oh, mungkin lebih tepatnya kita, masyarakat KPM. Dua tahun menelan, mencerna dan coba memahami setiap ilmu yang diberikan, teori-teori yang menurut saya perlahan merubah pola pikir dan cara pandang tentang masyarakat dan dunia sosial, tidak sengaja terdoktrin, namun harus tergadaikan dalam waktu satu minggu demi sebuah kewajiban atas nama mata kuliah Kuliah Kerja Profesi. Ya, proposal KKP. Selama ini diajarkan untuk mengenal dan memahami masyarakat terlebih dahulu serta mengidentifikasi dari sisi masyarakat mengenai kebutuhan yang sebenarnya mereka rasakan sebelum menentukan kebijakan atau program pemberdayaan yang akan dilakukan. tapi nyatanya, teori hanyalah jadi teori ketika semuanya harus berbenturan dengan ‘dateline pengumpulan proposal’. Idealisme seperti tergadaikan, padahal masih jadi mahasiswa. Bagaimana nanti ketika sudah memasuki dunia kerja? Terlalu blur untuk mengatakan bahwa idealisme ini akan tetap terjaga. Begitukah? 

Kembali ke ‘haruskah semua diukur dengan materi?’ Islam sendiri mengajarkan bahwa kekayaan hati jauh lebih penting dibandingkan kekayaan materi. Orang yang kaya hati, walau hidup dengan meteri yang kurang tetap akan merasa dirinya kaya. Sebaliknya..orang yang miskin hati, mau sekaya apapaun dia, tetap saja merasa kurang. Seperti para koruptor terhormat itu, korupsi dengan jabatan yang KATANYA terhormat, pasti mereka orang yang miskin hati!

Saturday, January 14, 2012

Hanya Merasa Harus Melakukannya


Kemarin, 14 Januari, untuk pertama kalinya gue dateng ke JobFair. Tuntutan peran memang. Peran sebagai seorang anak yang pengangguran yang ga mau dibilang ga ada kerjaan dan nganggur lama sama sekitar. Udah mulai bosen ditanyain “uda kerja ya? Kerja dimana Mi sekarang?”. Setengan sedih, setengan kesel, setengah mual, mau ga mau jawab “gue belum kerja” sambil nyengir kuda. Inget! Nyengir kuda! Kuda! *Mendadak emosi gue, sorry

Hmm...sejujurnya gue nofeel bgt ngelakuin jobfair kemarin. No passion, no aim, ga tau ujung harapan gue apa, hasil dari jobfair itu apa, ya, hanya merasa harus melakukannya. Harus dan mau jelas dua kata yang jauh berbeda.

Tanggal 9 kemarin, gue dapet pengumuman Indonesia Mengajar, seneng setengah mati gue nerima email yang bilang kalo gue lolos tahap 1. Kabarnya dari kurang lebih 8500 pelamar, hanya 267 yang lolos tahap 1. How important it is!!! Dan beberapa jam setelah gue nerima kabar bahagia itu, gue malah bingung. 

Gue tau banget gimana dan apa Indonesia Mengajar. Ketika diterima, Pengajar Muda (sebutan untuk mereka yang diterima di Indonesia Mengajar) harus siap ditempatkan dimana saja. Gue tau banget konsekuensi itu. Sayangnya, Ibu gue belum tau! Jangankan konsekuensi yang harus gue jalanin nanti, gue apply Indonesia Mengajar aja Ibu belum tau. Ga tau harus gimana nyampein ke beliau. Gue tau banget, beliau pengen gue kerja di Jakarta, yang bisa pulang balik n tetap tinggal di rumah. Ga pernah sampe hati bilang itu ke beliau. 

Dan sekarang, ngejalanin tahap 2 ini, gue no passion, no aim, ga kebayang gimana ujungnya nanti, gimana harus bilang ke Ibu. Ya, hanya merasa harus melakukannya. Harus dan mau jelas dua kata yang jauh berbeda.
Ini beda banget pas gue ngisi semua essay di form seleksi tahap 1. Ga usah passion or aim, denger Indonesia Mengajar atau Pengajar Muda aja gue udah degdegan parah, saking pengennya, saking ngarepnya, saking yakin ini perjalanan hidup gue selanjutnya setelah lulus kuliah. Ngerjain essay, begadang sampe jam empat juga masih seneng-seneng aja gue lakuin. Karena ini mimpi gue, mimpi besar! Tapi sekarang.. untuk menempuh seleksi tahap 2: hanya merasa harus melakukannya.

Hmm...ini dilematis banget buat gue, satu sisi mimpi yang pengen banget gue perjuangin, satu sisi Ibu pasti sedih banget denger kabar gue ini. Beliau emang ga akan ngelarang gue sacara langsung, tapi gue hampir selalu bisa nengkep dari air muka or mata beliau. Kemudian ini menjadi pertarungan batin, mana yang harus gue pertahanin, ego gue, anak yang belum bisa ngebahagiain Ibu or ego Ibu, yang uda banyak banget ngalah untuk kebahagian gue. Sedih banget ngebayangin ini, sedih!

The End

Tuesday, December 27, 2011

salah gue??! salah temen-temen guee??!!

Minggu kemaren, gue kena musibah. Musibah yang jadi pelajaran banget daah. Mungkin karena ini yang pertama dan ga biasa, jadi keingetan terus sampe sekarang, emosinya juga masih berasa.
Pengen cerita aja, mungkin ada pelajaran yang bisa temen-temen ambil (noted : mungkin)

Jadi, hari itu gue n temen gue (Momo, nama sebenernya) balik dari Kantor Imigrasi Bogor.
kita ngurus paspor karena rencananya 1-2 tahun lagi kita mau ke luar negeri (padahal ga tau kemana, persiapan aja kata seorang motipator, siapa tau kaaan) eeh malah cerita yang ini, mangap :p

Dari arah Kantor Imigrasi, gue milih jalan tembus ke Karya Bakti, otomatis harus muter di puteran Aer Mancur (ini kayanya orang bogor aja yang ngerti). Karena puteran, gue bawa motornya pelan aja, tapi ternyata, ada motor yang terbilang ngebut dari arah RS Salak. Keserempetlah kita (gue n Momo) dan BRAAK! motor, gue n Momo jatoh seketika. 

Menurut kita, jatohnya ga parah kok, gue cuma luka dikit banget. Momo malah ga luka. Dengan dibantu oleh seorang Bapak yang baik hati, motor gue dipinggirin ke sisi jalan. Karena masih kaget, jadi gue ga berani bawa motor langsung, calm down bentar. Pas gue n Momo lg calm down, tiba-tiba ada mbak2 n ibu2 yang manggil-manggil kita.

Singkat cerita, gue n Momo dipanggil n diajak ke parkiran deket situ. Ya Allaah..dan ternyata tragedi jatoh itu ngbuat tabrakan di belakang gue. Jadi, pas gue jatoh, mobil bak belakang gue otomatis ngerem mendadak, mobil sedan belakangnya (entah karena ngebut or jaraknya terlalu deket) nabrak. Kayanya bagian depan tu mobil sedan lecet, or apalah gitu, gue ga ngerti. Bapak yang punya mobil sedan minta ganti ke bapak yang punya mobil bak.

Setibanya di ntu parkiran, terjadilah percakapan. Sebelum gue ceritain percakapannya, gue jelasin dulu ya pemerannya
A: bapak pemilik mobil bak
B: bapak pemilik mobil sedan
C: anak A
kurang lebih percakapnnya gini:
A: (dengan emosi) ini nih, karena dia saya ngerem mendadak! kalo adek ini ga jatoh, saya ga bakal ngerem mendadak Pak! lagian adek kenapa jatoh?!! ini salah diaa Pak, dia juga ikut ganti rugi!! 
Gue: (kalem aja) looh Paaak.. saya jatoh karena saya diserempet, yang salah tuh yang nyerempet saya. dia ngeliat saya jatoh lanjut aja. *sumpah ini gue masih dapet bgt emosinyaa*
B: (kalem juga) Pak, kan saya sudah ngomong baik-baik, kita selesein ini baik-baik. ga mungkin juga kita minta ganti rugi sama adek ini *gue dalem ati: syukur, ada orang bener*
A: ya karena dia ini saya ngerem mendadak *gue dalem ati: astaga ini bapak, ga ngerti banget dah*
B: Pak..yuk kita selesein baik-baik. kita sama-sama loreng. Bisa aja si ke &%$#@ *gue lupa dia nyebutin apa* tapi kan malu, ini paling cuma satu juta. *gue dalem ati: bener Paak, malu2in)
A: loh, ga bisa donk Pak, saya ngerem medadak karena adek ini jatoh *gue dalem ati: ini orang ga ngerti ngatur emosi kayanya*

lalu A nelpon komandannya, dengan gaya ala bawahan keatasan, dia dengan bangga menyebut kata 'komandan', abis dia ngomong, tlp dia serahin ke B. *gue dalem ati: dikira keren kali?!terus gue takut?!kagaa!belagu ah* (ini maap ya klo bahasanya ga baik, biar terdeskripsikan dg baik prasaan gue kala itu, tsaaah)

kemudian, percakapannya berlanjut
A: ya udah, saya minta ktp adek 
Gue: buat apa Pak?
A: ya saya minta aja, saya mau catet alamatnya, mana, mana??! (belaga sok berkuasa)
Gue: loh Pah, emang ini mau diperkarakan?
A: adek ni ga ngerti banget, mana, mana, ktp mana??! (masih belagu)
Gue: Pak, setau saya, kalo memang tidak akan diperkarakan, saya tidak perlu memberi alamat ktp saya (stay cool gue)
A: ga ngerti banget si, udah mana ktp, ktp, mana??! (makin belagu)
Gue: ya udah, saya minta ktp Bapak juga

tukeran ktp lah Momo dan C. yang nyatet alamat kita C
C: ini ga ada alamat Bogor (nyolot)
Gue: Ga ada Mba
C: masa ga ada, minta yg ktp Bogor aja deh (tetep nyolot)
Gue: looh Mba, emang ga ada, kita mahasiswa yg kuliah di Bogor
C: jurusan apa?
Gue: saya sudah lulus Mba, tp masih ada urusan di Bogor. ini Mba ga ada alamat Bogor? masa' kita mesti nyebrang pulau? (ktp dia SUMATERA SELATAN)
Ibu C nyodorin ktp beliau yang beralamat di Bogor
C: terus di bogor tingga dimana? minta alamtnya deh (masih nyolot)
Gue: waduh, kita lupa alamat kosan, ga pernah berkepentingan dengan alamat kosan! (udah agak emosi gue)

zzzzrrrttt...singkat cerita sampailah pada penghujung tragedi ini
A dan B lagi ngomongin masalah mereka, minggir dari gue, ga tau kenapa?? sementara mereka minggir, tiba-tiba C ngomong
C: kamu si jatoh, klo kita ga ngerem mendadak temen kamu udah masuk ke kolong tadi, lebih panjang urusannya (ini sumpah nadanya nyolot parah)
Gue: Mba! emang kita yang mau jatoh?! santa aja kali!!? (ini gue nyolot banget, kesel ampe ubun2, mikir ga si ngomongnya nyalahin gitu)
langsung diem dia, dipikir dari tadi gue kalem karena takut kali!? 

dan yang lebih nyebelin, A minta C untuk foto gue n Momo. how kampret they are, brasa terdakwa banget gue! ngerti si loo l*reng, tapi gue juga ga bodoh2 banget juga kali! (gue dalem ati) 
cuma bilang ke Momo: Mo, turunin kaca helm lo

Jadi, kalo gue nyimpulin, pelajaran dari musibah ini:
- jangan mau diserempet orang (ini gue ambil dari kata2 si A dan C yg dari awal sampe ahir nyalahin kejatohan gue n Momo)
- se-kaget apapun, stay cool aja di depan orang siapapun, tunjukin bahwa kita intelek yang ga perlu pake teriak2, belagu apalagi nyolot ngadepin orang
- apapun jabatan seseorang, MEANS NOTHING klo belagu, tetep keliatan RENDAH! RENDAH!
- reaksi harus cepet, jangan kaya gue, pake bengong dulu *ini pelajaran banget buat gue*
- dan pelajaran lainnya yang mungkin bisa temen2 ambil
sekali lagi, gue minta maaf ya kalo ada kata-kata yang sepertinya ga pantes
*legaaaa*





 

Thursday, December 8, 2011

Graduation Day

Rabu kemarin, 7 desember 2011
Akhirnya... GUE WISUDAAA...
ALHAMDULILLAH...
Anugerah luar biasa banget buat gue, dan keluarga pastinya
karena kuliah emang 'barang' mahal untuk gue
buat gue, bukan tinggal nadah minta uang ke orang tua
tapi ada sidikit hati yang terkikis sedih setiap semester karena nyatanya tidak semudah itu
tapi..klo mau dibandingin dengan yang lain
gue emang belum seberapa, masih banyak yang lebih mengeluarkan jerih payah untuk kuliah
yaaa...lagi-lagi karena pendidikan, khususnya kuliah adalah 'barang' mahal untuk sebagian orang

Rabu kemarin emang begitu, eh terlalu spesial buat gue
atas Kuasa Nya, satu mimpi terwujud dengan indah
indah menurut gue pastinya, karena ga pernah ada parameter obyektif untuk mengukur kata 'indah'

sedikit cerita, mungkin karena pernah kehilangan, gue paranaoid banget sama yang namanya 'meninggal'
selalu takut, lemes, pengen nangis klo ngebayangin harus kehilangan orang tersayang (lagi)
walaupun gue tau harusnya ga gitu, karena kamatian adalah kepastian, tapi tetep ga  bisa ngontrol rasa yang satu itu
sejak kuliah, selalu berdoa sm Allah supaya Dia berkenan memberikan gue kesempatan untuk foto wisuda sama Mamah, pahlawan hidup gue
dan selalu takut bangeet, Allah 'manggil' Mama pulang sebelum gue bisa foto wisuda sama Mama..

Daaan... Allah menjawab mimpi gue yang satu ini dengan begitu indah..
dengan predikat dan ipk kelulusan yang juga memuaskan buat gue
Allah berkenan memberikan gue kesempatan foto wisuda sama Mama..


Juga sama mahrom gue satu-satunya, Abang gendut :p


juga sama calon kakak ipar :)
Ami dan Mba Ira :)

Semua prosesi wisuda ini Alhamdulillah berjalan lancar
sempet takut kesandung juga karena pake highheels 5cm *hanya untuk moment wisuda :)

Apapun anugerah yg Allah SWT berikan, semoga kita selalu bersyukur
agar keberkahan Allah jug asenantiasa melingkupi hidup kita
*sumringaaah* :))))

                                                            

Friday, December 2, 2011

ekspresif #part1

Aku mengaguminya
dari atas hingga bawah
dari ujung rambut hingga ujung kaki
dari luar hingga dalam
dari fisik hingga jiwanya
dari dirinya hingga keluarganya

buatku, di luar biasa
terlalu luar biasa bahkan
untuk anak muda berumur 22, dia memang berbeda dari anak muda lainnya
dia dewasa dalam perilaku kekanak-kanakannya
dia tangguh dalam kerapuhannya
walaupun keadaan yang memaksanya
tapi dia menyikapinya dengan bijak

(to be continued ... )



Thursday, December 1, 2011

Ibu manis deeh..tapi item!

Beberapa bulan yang lalu, gue ngajar di sebuah tempat bimbingan belajar.
Pas itu gue lagi nunggu hasil tes tulis. Karena bakat alami gue yang suka senyum dan negur sembarangan (ahahaa :p), gue tegur lah anak-anak yang lagi nunggu jam masuk sambil main komputer. Dan selanjutnya, kira-kira seperti inilah percakapannya

Gue: waaaah...lagi pada main apaan? (karena yang gerombol di depan komputer ada 4 anak)
Anak SD kelas 4: ini Bu, lagi main ini (sambil nunjukin layar komputer)
Gue: Oo.. *gue sambil baca-baca jawaban tes tulis
Anak SD kelas 4: Ibu..Ibu manis deh, tapi item
Gue: ehehe (gue nyengiiir aja, ga tau harus seneng atau mengkerut) kamu bisa aja

dan percakapan pun selesai!!! Bapak yang ngecek jawaban gue datang! Whoaaa...ahirnya, bisa mati gaya gue.
Jadi, inti dari cerita ini adalah, gunakan asas pahit manis, soale kita lbih sering nangkep bagian akhir. misalnya, Ibu item deh, tapi manis.. dijamin berbunga2 gue. Ahahaaaa....ngarep!!!
tapi gue menghargai sang anak kecil, karena gue tau beliau tulus :)
the end


Tuesday, November 29, 2011

Gue cewek, terus???


Uhh!! jadi cewek tu ribet ya?!!
ga boleh ini ga boleh itu!!
aktif dikit dibilang pecicilan!!
manjat pohon dibilang tomboy!!
pengen naik menara dibilang aneh!ditanyain sana sini! dalam rangka apa?-lah, kenapa?-lah, emang kuat?-lah, besinya udah rapuh-lah. ga boleh tanpa alesan logic-lah. hmmhhh...
belum lagi harus ribet2an sama alat2 kosmetik yang seabreg2!! ga pake dibilang aneh “masa cewek ga pake bedak?dandan dikit donk!!” rrrggghhhh!!so what!
waduh,,harus pake jilbab juga!
peniti sana peniti sini!
harus terus stay tune biar jilbabnya tetep dlm keadaan ‘normal’ ga kaya abis kena angin topan!
hmm...masih harus diulurin sampe dada lagi!!
kan panas...gerah..apalagi udah krisis global gini!klo siang panasnya parrraaahhhh!!
eh,,konon katanya aurat cewek itu seluruh badan kecuali telapak tangan n muka!
nah lho!!berati telapak kaki juga donk???
uda gitu bajunya juga ga boleh ngebentuk badan, ga boleh ngetat, ahh....ga modis donk??! ga keren donk??!! nti klo di bilang jadul gimana??!!
ribet ribet ribet!!!

Nah!!tenang.. itu intro aja, pasti masih banyak keluhan2 lain yang klo dijabarin satu2 pasti ga selesai2 ni tulisan. Keluhan2 diatas cuma sebagian kecil (tapi umum) yang biasanya dikeluhin sama para cewek a.k.a perempuan, termasuk gw (beberapa keluhan diatas emang pernah gw rasain, beberapa lho ya, ga semua) dari jaman ke jaman. Tapi bentar deh, coba liat, dibalik keluhan2 itu ada sebuah maksud, keistimewaan dan penjagaan yang maha dahsyat dari Yang Maha Dahsyat.

Bentar, mau ngejelasin dikit, lagi-lagi tulisan ini sebenernya menyikapi beberapa hal yang rasanya belum bisa gw usahakan dengan perbuatan, mungkin lewat tulisan, semoga bisa bermanfaat. Ehia, gw juga belum bener2 bgt, masih terlalu byk yg harus dibenahin, tp ini hanya sebentuk ekspresi cinta atas nama saudari se-Iman. mari sama-sama menyikapinya dengan dewasa.

Hmm...gw mulai dari mana ya..
mungkin (emang iya sebenernya) banyak yang berpikir panjang buat mutusin pake jilbab. atau...banyak yang masih setengah hati pake jilbab a.k.a masih bongkar pasang klo kata temen gw. 
tidak ada yang salah dengan pemikiran itu sebenernya karena gw juga pernah ngejalanin proses itu. butuh 5 taun buat ngumpulin tekad n ngeyakinin diri gw untuk pake jilbab. jadi...bersyukurlah buat temen2 yang cuma butuh beberapa bulan buat change your mind. Dulu mikirnya gini “ah, gw belum siap pake jilbab, sikap gw masih begini, nanti malah ngejelek-in jilbab lagi!!. Mungkin ada beberapa temen yg mikir kaya gw juga.

tapi saudariku..yakinlah..ketika niat itu benar datang dari hati, “bukan engkau yang akan menjaga jilbabmu..tapi jilbablah yang akan menjagamu..”

Trus klo udah berjilbab, kenapa harus diulurkan sampai dada?
Sang Maha Dahsyat mengingatkan kita lewat surat cintanya:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Terjemahan QS. An Nur:31)

Maaf, gw bukan ahli tafsir, sangat ga berani sekali menafsirkan ayat diatas, tapi rasanya cukup eksplisit bahwa Allah menyeru kita untuk mengulurkan jilbab sampai ke dada. Gw yakin pada dasarnya kita paham kenapa harus sampai dada?!jadi ga usah gw jabarin panjang lebar y?!
*Tanyakan pada hati dan jujurlah, engkau pasti tahu jawabannya..

Nah, kan uda bejilbab, ngulurin sampe dada, trus skr kenapa ga boleh ngetat n ngbentuk badan bajunya?
ya!!karena konon kabarnya wanita adalah maha karya terindah Sang Pencipta (wah,,gw juga ga tau deu darimana ni kata2 berasal, agak lebay ya?). Eniway,,maha karya dibelahan dunia manapun pasti dijaga dengan penjagaan super oleh pemiliknya. Kaya lukisan Monalisa yang dijaga ampun2an, berlian di pameran yang ditaro di dalem kotak kaca tebel, anti peluru, sensor infrared dipasang dimana2, kode rahasia buat buka tu kotak, belum lagi kode buat buka ruangan (paling ga, ini c yang pernah gw tonton di film), begh...seabreg aje gile penjagaannya. Kenapa? Karena sang pemilik begitu sayang sama barang miliknya. Begitu-pun dengan Allah SWT. Dia tidak hanya menciptakan perempuan, tapi juga memberikan penjagaan, ya dengan jilbab nyar’i (sesuai syar’i) itu. kenapa? Karena Allah SWT sayang sama kita.

Selain itu, jlibab juga merupakan identitas kita sebagai seorang Muslim.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Terjemahan QS. Al Ahzab:59).

tuh kan.. let’s shows that we proud to be Muslimah!!

Perintah Allah SWT adalah arahan hidup menuju kehidupan abadi (akhirat), hanya akan menjadi beban ketika kita belum memaknai perintah-perintah Nya dengan hati.
Islam juga ga pernah ngekang kita ko.. kita ga dilarang buat berkespresi sepanjang itu masih nyar’i. pandangan ‘mengekang’ itu timbul karena pemikiran-pemikitan barat udah ngejajah otak-otak kita,,ceritanya biar segala2nya bisa ‘berkiblat’ ke barat.. dan ternyata itu berhasil agaknya! isu gender yang diangkat sekarang semakin mengarah pada feminism yang notabenenya berasal dari barat. hmm...harus pinter2 menelaah pemikiran-pemikiran orang barat nh. 

Kita mungkin dilahirkan lengkap secara genetic, namun sebagai diri sendiri kita sesungguhnya belum selesai (Titik Ba). Karena manusia dewasa akan terus belajar dan terus berproses menjadi ‘aku’ hingga akhir hayatnya (Harefa), sehingga ia dapat menjadi manusia holistik yaitu manusia yang menyadari betul hubungannya dengan Tuhan nya..

Berproses..mari manikmati satiap prosesnya

masih panjang bgt yg pengen dijabarin sebenernya. tapi baca tulisan  panjang2 juga ga enak deu agaknya. ehia, banyak rujukan yang bisa memperdalam pemahaman kita tentang perempuan dalam Islam, misalnya Fiqih Wanita..

*semoga bermanfaat





Refleksi


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sahabat, aku hanya ingin sedikit berbagi

Hari itu.. aku bertanya pada Rabb kita
“Rabb.. sebenarnya apa kerja mereka? Apa tugas mereka? Apa fungsi keberadaan mereka?”
Tidak berapa lama Dia menjawab
“Mi, sekarang Aku (benar-benar) masukkan kamu kedalamnya, ke ‘tempat’ yang kamu pertanyakan selama ini, agar kamu paham betul bagaimana kerja, tugas dan fungsi mereka”

Di lain waktu, ketika aku sudah masuk di dalamnya, aku berkata
“Rabb, sungguh aku merasa tidak pantas berada di dalamnya, ilmuku jauh dari standar ideal, pengalamanku tidak banyak seperti mereka”
Segera Allah kembali mejawabku dengan sabar
“Ami sayang, inilah proses itu, Aku menempatkan kamu disini sebagai proses pembelajaran, Aku ingin kamu memanfaatkan ‘tempat’ ini untuk meningkatkan segala aspek yang ingin kamu kejar”

Tidak lama setelah pertanyaan sebelumnya, tiba-tiba keraguanku muncul
“Rabbku..bisakah aku menjalankan amanah ini?”
Dia menjawabku dengan begitu damainya
“Ami...kamu tenang aja..ada banyak orang hebat disekitarmu, kamu akan sama-sama belajar dengan mereka agar diakhir nanti bukan cuma satu, dua atau tiga orang yang menjadi kupu-kupu, tapi semuanya, untuk selanjutnya terjun ke masyarakat”

Masih teringat di kepalaku, ketika semester dua dulu aku ‘berbagi’ dengan Nya
“Rabb.. aku mau jadi asisten mata kuliah ini, aku mau jadi asisten mata kuliah itu, aku pengen ngerasain jadi guru bimbel, aku pengen dapet beasiswa itu, aku pengen ini, aku pengen itu” (manusia emang banyak maunya)
Aku menunggu..semester 3 berlalu..empat..lima..hingga enam..masih belum juga Dia menjawab inginku
Tapi..ketika semester 7 datang.. perlahan tapi pasti Allah menjawab semua inginku sambil ‘berkata’
“Ami sayang...sekarang Aku kabulkan semua keinginanmu. Kenapa baru disemester 7? Karena aku ingin mengajarkanmu tentang indahnya menunggu jawaban Ku, tentang bahagianya memiliki hati yang pasrah pada Ku, tentang proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan sabar. Lebih jauh, karena Aku tahu sesungguhnya kamu baru akan bisa menghadapi semua di semester 7 ini. tingkat 2 dan 3 adalah tingkat yang padat untukmu, kuliah dan amanah lain akan banyak menyita perhatianmu saat itu. Yakinlah hamba Ku, Aku memberikan yang kamu butuhkan sesuai kesanggupanmu, bukan keinginan yang kadang kau sendiri tidak yakin bisa menhadapinya.

Suatu kali, aku kecewa teramat sangat karena apa yang aku harapkan tidak terlaksana. Aku kembali bertanya pada Nya
“kenapa Rabb.. kenapa semua jadi seperti ini...?”
Lalu Allah menjawabnya dengan penuh kecintaan pada seorang hamba Nya yang tidak bosan mempertanyakan banyak hal
“Ami.. apakah semua yang kamu inginkan harus Aku penuhi? Lalu bagaimana kamu akan belajar tentang hidup. Hidup ini perlu banyak pemaknaan sayang.. Bukan hanya kebahagiaan yang ingin Aku ajarkan padamu..tapi juga kesedihan, kekecewaan.. Agar kamu pham betul bagaimana memaknai hidup ini, lalu mengajarkan dan berbagi dengan yang lain. Agar kamu bisa merasakan yang orang lain rasakan. Karena sesungguhnya, kalian, umat muslim adalah satu. Percayalah, pada dasarnya kebahagiaan ada di dirimu, tinggal bagaimana kamu memaknai itu semua. Ikhlaslah wahai hamba Ku.. aku tidak akan memberikan ujian diluar kesanggupanmu. Karena Aku Rabbmu, Aku penciptamu, dan Aku paham bagaimana kamu.

Dari semua jawaban Nya, aku menjawab “Baik Allahku, aku ikhlas dan Insya Allah paham atas semua kehendak Mu”

Sahabatku, sesungguhnya Allah selalu bicara pada kita..
Tapi.. Allah bicara dengan bahasa Nya
Bahasa yang hanya bisa ditangkap, diterima, dan dipahami oleh hati yang lembut..
Yaitu hati yang ikhlas dan paham bahwa pasti ada hikmah dibalik setiap  peristiwa
Hati yang merindu Nya
Hati yang dapat menstimulus kelenjar air mata untuk selalu menangis dihadapan Nya

Bolehkah aku bertanya?
Pernahkah sahabat ingin sekali menangis di hadapan Nya tapi tidak sedikit pun air mata yang keluar?
Suatu kali seorang Ustad pernah berkata:
“jika kamu tidak bisa menangis dihadapan Nya ketika berdoa, menangislah karena kamu tidak bisa menangis”
Tidak keluarnya air mata ketika bermunajat kepada Nya adalah salah satu indikasi kerasnya hati.
Ketika hati keras, jangankan untuk menangkap, menerima apalagi memahami bahasa Nya, untuk merasakan kehadiran Nya saja akan sulit.
Untuk itu, wahai sahabatku..
Mintalah hati yang lembut pada Nya, Allah SWT, Allah kita yang Maha Lembut
Agar kita bisa
Melihat dalam gelap..
Merasakan dalam diam..
Dan..
Mendengar dalam kebisuan..

Semoga kita selalu saling mengingatkan dan menguatkan
semoga bermanfaat :)

Modu A-Yo

Modu A-Yo
...::especially for u::...
Sometimes, you walk alone
You stop for a moment and take a look around
When you’re tired of the feeling of being alone
Follow me then, follow me, me, eh

You fall asleep alone again
You try hard to doze off
You close my worn out eyes
When you still can’t sleep
Because of the many, many thoughts
Follow me then, follow me, me, eh


A-yo, when it’s tough
Doong tah dak, lean on the rhythm, oh
With our song for you
Everyone a-yo, everyone a-yo

A-yo, when you can’t sleep
Tap brush it off, leave it to the rhythm, oh
With the anticipation of the unfolding tomorrow
Everyone a-yo, everyone a-yo*

Your IQ is two digits, test scores are also two digits
School rank is three digits, why in the world, why, why
Throughout the entire day, only nagging returns
What are you doing at your desk today, why why

During this breathless day
Even if there’s no place to rest, oh, oh
Never become weak, ah, ah
No way, no way

Even if there’s no one
To understand your grieving heart, oh, oh
Never give up, ah, ah
Your way, your way

Person I trusted, I gave you my best
But your love that changes
Like seasons do, bye, goodbye
Saying that you don’t have time
The lies I endured every day
Pretending like I didn’t know
I believed that you return back then, back then

Even if tears sometimes
Cover both your eyes
Never become weak, ah, ah
No way, no way

Even if it seems there’s no end
To sleepless night, oh, oh
Never give up, ah, ah
Your way, your way

 Woo~
When it’s tough, think
About who will greet you
As I wait for you to come
I’m smiling for you, hey

Woo~
When you can’t sleep, wait
For another unfolding tomorrow
]When this night passes
You’ll come to me

Sometimes, you walk alone
You stop for a moment and take a look around
When you’re tired of the feeling of being alone
Follow me then, follow me, me, eh

You fall asleep alone again
You try hard to doze off
You close my worn out eyes
When you still can’t sleep
Because of the many, many thoughts
Follow me then, follow me, me, eh

Bring it side to side, your sad tears
Side to side, all your pain
Tap, brush it off
Leave it to the rhythm, oh
Everyone a-yo, everyone a-yo

sebenernya ini terjemahan lagunya SHINee, A-yo judulnya
terlepas apakah ini kpop or sejenisnya
tapi artinya manis
*sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sekitarnya 
semoga bermanfaat